Konflik antara Israel dan Palestina adalah salah satu konflik terlama dan paling rumit di dunia. Konflik ini bermula dari klaim bersaing atas tanah yang dianggap suci oleh tiga agama besar: Yahudi, Kristen, dan Islam.
Tanah ini meliputi wilayah yang sekarang dikenal sebagai Israel, Tepi Barat, Jalur Gaza, dan Yerusalem Timur. Sejak berdirinya negara Israel pada tahun 1948, setelah Perang Dunia II, konflik ini telah melibatkan perang, pemberontakan, negosiasi, dan upaya perdamaian yang gagal.
Eskalasi Kekerasan Terbaru
Eskalasi kekerasan terbaru antara kedua kubu dimulai pada akhir September 2023, ketika terjadi bentrokan antara polisi dua negara tersebut di Masjid Al-Aqsa.
Bentrokan ini dipicu oleh rencana Israel untuk menggusur beberapa keluarga Palestina dari lingkungan Sheikh Jarrah di Yerusalem Timur, yang diklaim oleh kedua belah pihak sebagai bagian dari ibu kota mereka. Warga Palestina menganggap penggusuran ini sebagai bagian dari upaya Israel untuk mengubah demografi dan status Yerusalem Timur, yang diduduki oleh Israel sejak tahun 1967.
Respons Dunia Internasional tentang Konflik Israel dan Palestina
Respons dunia internasional terhadap konflik Israel dan Palestina terkini bervariasi. Beberapa negara, seperti Amerika Serikat, Inggris, dan Jerman, mendukung hak Israel untuk mempertahankan diri dari serangan Hamas.
Beberapa negara lain, seperti Turki, Iran, dan Pakistan, mengutuk keras tindakan Israel sebagai agresi dan pelanggaran hak asasi manusia terhadap rakyat Palestina. Dan beberapa negara juga menawarkan bantuan kemanusiaan kepada korban konflik di Jalur Gaza.
Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) telah mengadakan beberapa pertemuan darurat untuk membahas krisis ini, tetapi belum berhasil mencapai resolusi bersama. Kemudian, Dewan Keamanan PBB juga telah mendesak kedua belah pihak untuk menghormati hukum internasional dan melindungi warga sipil.
Harapan Perdamaian
Harapan perdamaian antara kedua negara tersebu ini tampak suram, mengingat tingkat kebencian dan ketidakpercayaan yang tinggi antara kedua belah pihak. Namun, ada juga beberapa inisiatif yang mencoba menjembatani kesenjangan dan mendorong dialog. Salah satunya adalah gerakan sosial bernama “We Are Not Enemies”. Gerakan ini bertujuan untuk menunjukkan bahwa ada orang-orang di kedua sisi yang menginginkan perdamaian dan menghormati kemanusiaan satu sama lain.












